baton

Seorang sahabatku, Ilma, memberikan baton padaku udah 1 bulanan yang lalu. Yaa, namanya juga Virtri. Meski suka nulis, tapi nge-blog itu mah sifatnya kebutuhan tersier, gede di niat doank J.

Ilma mendapat baton dari temannya, sebut saja si X. X ini mendapat dari B, B dari R, dst, dst. Nah, Ilma diminta juga meneruskan ke teman-temannya, demikian juga dengan teman-temannya untuk meneruskan ke teman-teman berikutnya, dst, dst. Baton yang kudapat dari Ilma adalah deskripsi delapan hal tentang aku: sifat dan kebiasaanku.

Baton itu sendiri memiliki beberapa pengertian. Yang paling sering digunakan adalah tongkat yang digunakan konduktor dalam pertunjukkan musikal. Lalu apa hubungannya dengan pola terus-meneruskan ini? Ternyata ada satu pengertian lagi yang lebih dapat digunakan untuk memahami tentang baton ini: tongkat estafet. Nah, sekarang jadi lebih jelas kan?

Menurutku, konsep baton di sini lebih bertujuan untuk mengetahui sesuatu atau beberapa hal yang kita ingin tahu dari teman atau sahabat dari sudut pandang si teman atau sahabat kita itu. Bisa jadi itu karena kita belum tahu atau sudah tahu tapi ingin mengenalnya lebih dalam.

Dalam salah satu teori psikologi (ceritanya anak komunikasi yang sok tau tentang dunia psikologi nih! :D), ada konsep tentang jendela pengenalan diri:

Jendela 1 : Sifat/kepribadian tentang diri kita yang kita ketahui, namun orang lain tidak tahu

Jendela 2 : Sifat/kepribadian tentang diri kita yang orang lain tahu, namun kita tidak tahu

Jendela 3 : Sifat/kepribadian tentang diri kita yang kita dan orang lain sama-sama ketahui

Jendela 4 : Sifat/kepribadian tentang diri kita yang baik kita sendiri maupun orang lain tidak tahu (yang tahu hanya Tuhan kali ya, hehehe)

Nah, baton ini bertujuan untuk menguak jendela 1 untuk menuju ke jendela 3.

Sebelum meneruskan tentang baton yang kudapat dari Ilma, ada dua jenis baton yang mengganjalku:

1. Baton di Bulletin Board-nya Friendster (yang jarang aku baca itu lohh. Ga tau kalo kamu). Beberapa yang sempat kubaca sambil lalu kayaknya tentang baton membaton. Dan batonannya adalah tentang hal-hal kecil yang menurutku (maaf) celemente (diksi ku jelek banget! :p). Misalnya daftar tentang hal-hal berikut:

-          Makanan kesukaanmu?

-          Warna kesukaanmu?

-          Merk HP-mu?

-          Lagi senang dengar lagu apa?

-          Siapa orang yang paling kamu rindukan saat ini?

-          Siapa orang yang terakhir mengirimkanmu sms?

-          Bunyi smsnya?

-          Dst

Duh, engga banget kaannn. Untuk apa gitu loohhh daftar ini. Bukannya sebagian besarnya dah ada di profile FS. Dan sisanya.. itu kan ga pentiiiing banget! Tapi pola baton seperti itu berjalan dan digemari! Jadi teringat waktu SD, waktu itu aku sering nulis biodata di buku teman-teman, dan sebaliknya. Bedanya waktu itu ditambahi “kata mutiara” dan “pantun” huehehehe.

2. Baton yang memiliki dampak, baik dan buruk.Biasanya dikirimkan via personal email, milis, atau juga di bullentin board. Baton ini tidak untuk diisi, tapi untuk diteruskan ke teman-teman. Dengan meneruskan/tidak meneruskannya kamu mendapat hal-hal berikut:

Materi (PDA, Laptop, ato duiiiiiitttt!!!!)

“Jika kamu meneruskan ke sepuluh temanmu, maka Microsoft akan mengirimkan uang sejumlah sekian sekian ke rekeningmu, bla…bla…bla...”

Berkat

“Jika kamu meneruskan ke 1-5 temanmu, maka seseorang yang kamu sayangi akan meneleponmu nanti sore”

“Jika kamu meneruskan ke  6-20 temanmu, maka sesuatu yang indah akan terjadi padamu esok hari”

“Jika kamu meneruskan pada lebih dari 20 temanmu, kebahagiaan akan besertamu”

Kutuk

“Jangan abaikan email ini. Jika kamu tidak meneruskannya, sesuatu yang buruk akan terjadi padamu!” Hiiiiiiyyyyy… :p

Hehehe, satu kali pun tak pernah kugubris email seperti ini. Menyedihkan sekali jika hidupku, kebahagiaanku ditentukan hanya dari surat elektronik; bagaimana sikapku untuk meneruskannya atau tidak J.

Lepas dari 2 jenis baton di atas, baton yang dari Ilma akan kugolongkan dalam baton dalam rangka pengenalan ke teman dan sahabat lebih dalam. Eh kalo dipikir-pikir, Baton di Bulletin Board FS juga bermaksud untuk mengenal lebih dalam tentang seseorang. Umm, lebih tepatnya mengenal lebih detail. Detail-detail yang tak penting. Hehehe, kok aku jadi sinis sih.

Ah, aku berlebihan dalam memahami baton. Bisa jadi, konsep baton ini terjadi begitu saja, tidak serumit yang aku pikirkan, ya tanpa tujuan saja, hanya permainan seru dalam dunia maya. Jika di dunia nyata kita mengenal permainan “truth or dare”, maka baton adalah permainan “truth or truth”. Hehehe.

Lalu, deskripsiku tentang aku?

Seperti yang kamu tahu, aku masih seseorang yang menyukai hidup, menikmati tiap saatnya, tiap sudutnya.

Sifat dan kebiasaanku?

Kamu akan tahu seiring kamu mengenalku lebih dalam; dalam kebersamaan kita.

Baton selayaknya diteruskan. Aku akan meneruskannya padamu, iya kamu, kamu yang ingin menguak tentang jendela 1 kepribadianmu dalam goresan tulisan. Teman dan sahabatmu pasti akan terbantu untuk mengenalmu; mengetahui apa kesukaanmu dan apa yang tidak kamu sukai. Lumayan kan, mereka jadi tahu hendak memberi hadiah apa di hari ulang tahunmu atau kemana mereka akan membawamu kencan atau jalan-jalan.

Namun, jika kamu tidak mau, tak mengapa. Aku tidak memaksa kok.

Aku tahu kita akan mengenal lebih dalam; dalam sapa dan sua kita.

                            

sunset in dreamland

“Kamu yakin akan meninggalkan pulau ini?”

“Tentu saja!”

“Tidak berat?”

“Mengapa?”

“Lihat baik-baik. Tempat ini begitu cantik, sayang! Ini pulau yang dicintai dewa dan dewi”

“Tapi tidak ada kamu di sini!”

“Gombal!”

“Hahaha, iya gombal. Tapi itu benar. Seperti halnya kamu, aku juga tak ingin berjengkal darimu. Di pulau indah ini aku seakan terkurung, dibatasi jarak dan waktu denganmu; terbenam di pulau impian.”

Dreamland_beach_2_1Semburat jingga kemerah-merahan kian membayang di langit. Diiringi debur ombak yang bergulung-gulung di atas hamparan pasir putih, mentari bergerak perlahan; beranjak-anjak ia turun kembali ke peraduannya, masuk ke dalam laut maha luas.

from malang to surabaya

(ini bukan tulisan tentang mudik. kalo mudik, judulnya akan "from surabaya to jogja", hehe. oia, selamat idul fitri ya untuk kamu yang merayakannya. aku minta maaf untuk segala tuturku yang bercela dan lakuku yang tak berkenan di hatimu. kamu mau memaafkanku, kan?)

Delapan bulanku tinggal di Malang sudah tuntas. Akhir September kemarin aku pindah ke Surabaya untuk tinggal di kota pahlawan ini.

Malang yang sejuk, Malang yang cantik, Malang yang nyaman, tak akan kudapati lagi tiap harinya. Bagaimana aku bisa mudah melupakan kota itu, delapan bulan adalah waktu yang lebih dari cukup bagi Malang untuk menawan hatiku. Tiap pagi dan sore aku disuguhi pemandangan liuk siluet pegunungan yang hingga sekarang tak dapat kuhafal satu per satu gunung apa saja yang mengelilingi kota indah itu. Kota yang dicintai gunung-gunung, demikian sapa sahabatku pada kota ini. Wajar saja jika hawa di kota ini begitu bersahabat. Hembusan angin yang lembut, hijau pohon di sisi kiri dan kanan jalan-jalan kota, dipadu dengan beberapa bangunan tua jaman Belanda menarik kedua sudut bibirku untuk tersenyum tiap aku menyusurinya.

Ada beberapa sudut yang membuatku betah berlama-lama untuk menikmati kota ini:

Alun-alun. Di pusat kota ini terdapat tiga bangunan rumah ibadah yang bersisian: Masjid, Gereja Katolik, dan Gereja Kristen. Kuno memang, namun justru di situlah letak keindahannya. Ah ya, di Gereja Kristen itu, GPIB, di sanalah orang tuaku mengucapkan ikrar suci mereka tiga puluh dua tahun lalu. Hmmm..

Masih di alun-alun,  di sana terdapat "Warung Es Krim Oen". Ini pilihan tepat untuk mereka yang mau merasakan jaman tempoe doeloe. Warung atau lebih tepatnya restoran ini masih mempertahankan suasananya: dandanan para pelayannya, dekorasi ruangnya, maupun meja dan kursi anyaman tempat kita duduk.

Sepanjang Jalan Ijen. Ada perumahan di tengah kota yang memiliki bangunan Belanda. Boulevard ada ditengahnya. Juga tugu bunga. Hijau mendominasi sepanjang jalan yang lebar ini. Sejuk sekali. Di minggu pagi, jalanan ini ditutup untuk kendaraan untuk menyediakan ruang publik bagi mereka yang ingin berolah raga pagi atau menikmati berbagai jajanan. Ah, mengingatkanku pada seputaran kampus UGM. Jika kota Malang sedang berulang tahun, sepanjang jalan ini menjadi tempat untuk diadakannya festival rakyat: Malang Kembali atau Malang Tempo Dulu. Ketika mengunjunginya kemarin, aku senang sekali. Senang melihat bagaimana rakyat Malang antusias mengetahui sejarah negeri ini di kota mereka. Senang juga dengan kumpulan manusia yang mencintai karya tradisional yang bangsanya hasilkan sendiri.

Nasi Pecel Mbok Djo, Sop Buntut Aroda, dan Tahu Telor Pak Pedes. Hahaha, iya tiga tempat makan ini memang tidak besar dan tidak sepopuler Pecel Kawi misalnya. Namun, kurang ajar! Aku benar-benar menyukai tiga makanan ini!

Masih banyak lagi sudut-sudut yang kusuka: Taman Tugu di depan Balai Kota, Perjalanan menyusuri Batu, Pujon hingga Pare, Gerejaku di Bromo, Pantai Balekambang nan menakjubkan, hingga kamar kosku yang nyaman.

Belum lagi kenangan akan kita; kebersamaan kita. Kencan-kencan irit dan kencan-kencan boros, demikian kita menamainya. Hahaha, itu bukan kencan, sahabat, itu perjalanan. Iya, penjalanan yang selalu saja menyenangkan jika bersamamu.

Sekarang, aku berada di Surabaya. Belum genap satu bulan aku mendiaminya. Panas, beda dengan Malang. Airnya juga tidak sesejuk di sana. Bau tak sedap sering tak sengaja kuhirup jika bertemu dengan kali-kali di tengah kota. Pemandangan yang kudapatkan tiap harinya juga berbeda. Tidak ada pegunungan yang bisa dengan leluasa kupandangi ketika aku menyusuri jalan-jalannya. Yang ada sekarang adalah mal-mal dan plasa-plasa, kerumunan mobil dan motor yang saling berpacu di jalan tanpa toleransi, pasar yang tumpah hingga ke badan jalan; ruwet.

Namun aku percaya, pasti terdapat banyak sudut-sudut yang bisa kunikmati juga di sini. Beberapa sudah kudapat. Memang masih dalam hitungan jemari tangan tapi akan bertambah tiap harinya, aku yakin kok. Setidaknya, kamar kost-ku saat ini begitu cantik.

CA

B 

Seperti halnya aku terbiasa mencintai setiap manusia yang kutemui dalam hidupku ini, tanpa memandang rupa; aku juga akan mencintai kota yang akan kudiami saat ini: Surabaya.

11-1-14-7-5-14

malam sudah. namun pesan elektronik darimu menggodaku untuk segera membuka puluhan gambar yang kamu bagikan untukku.

satu demi satu kubuka:

hamparan pasir putih pulau dewata nan cantik,

lambaian nyiur yang hijau penuh,

bocah-bocah yang bermain di pantai,

prasasti bersejarah di tengah pusat kota,

kolam renang dari balik jendela kamar hotelmu,

kamar barumu sejak dua hari lalu,

hingga gambar sorot teduh dari sepasang mata mu.

tak terasa air mata membayang di mata. aku seakan memasuki hidupmu di sana. aku suka itu. dan, aku semakin merindumu. iya, kamu; nyamanku.

menulis

“Aku ingin jadi penulis!”

kataku padamu.

“Ya menulislah!”

tangkasmu cepat.

Menulis. Sebuah pekerjaan yang sesungguhnya mudah namun sulit buatku. Entah kesulitan untuk mengawalinya, melanjutkannya ketika berada di tengah, atau menyelesaikannya ketika sudah berada di klimaks. Kesulitan menyempatkan diri untuk menulis dalam kesibukan kerjaku, atau mungkin bisa jadi kesulitan untuk menyingkirkan rasa malasku. Padahal, ada begitu banyak hal yang ingin kubagikan melalui tulisan:

tentang ragam manusia yang kujumpai di tiap sudut, yang hebat, yang unik, yang menarik, yang mengharukanku, ataupun yang mengesalkanku;

tentang pemandangan-pemandangan menakjubkan yang kutemui di sepanjang perjalanan dalam karyaku, yang membuatku lebih lagi melimpahkan syukur pada Sang Pelukisnya;

tentang hal-hal sederhana yang indah dalam aku meniti rentang waktu: bahagia dan kecewa yang menjadi warna-warni dalam hidupku;

tentang apa pun;

pun sekedar tentang perasaanku padamu.

Aku tidak dapat mengingat dengan jelas kapan aku mulai senang menulis. Setidaknya yang kutahu adalah sejak kelas lima di bangku sekolah dasar, aku mulai akrab dengan buku harian. Buku harianku kupanggil ”Lotta”. Entah apa yang mendasari nama itu. Hari demi hari kugoreskan tinta padanya; membagi cerita tentang aktivitas, teman-teman, keluarga, sekolah, dengan sudut pandang seorang anak perempuan sepuluh tahun. Sungguh tulisan polos yang menarik ketika saat ini kubaca kembali.

Di bangku sekolah menengah pertama pun aku masih melanjutkan ”Lotta”-ku. Kecamuk perasaan remaja perempuan yang mulai mengalami pubertas pun tergambar dalam torehan-torehan dalam sebuah buku. Kerinduan akan persahabatan, keresahan akan belum datangnya menstruasi, ketertarikan pada lawan jenis, timbulnya letup-letup cinta monyet, hahaha...

Pada masa itu aku juga mulai senang menulis naskah-naskah sederhana. Bukan, bukan untuk pementasan yang kamu pikir. Naskah itu hanya untuk pelajaran percakapan dalam kelas bahasa indonesia. Hal itu bergulir sampai aku duduk di bangku sekolah menengah atas. Buku harian, naskah kecil-kecilan, tulisan-tulisan imajinatif-kreatif (ini jenis tulisan yang kunamai sendiri, hehe), puisi melankolis romantis gombalis, hingga akhirnya aku mulai terlibat dalam ruang tulis-menulis yang lebih profesional: buletin pemuda gereja.

Di masa kuliah, banyak sekali kawan yang jago menulis. Aku senang membaca tulisan-tulisan mereka. Sempat terpacu untuk ikut kelompok Jurnalistik. Namun akibat satu, dua, dan tiga hal, aku tidak jadi L. Syukurlah dalam organisasi PMK yang kugeluti terdapat buletin yang bisa dijadikan ruang pemenuhan nafsu menulis. Disamping itu, berbagai makalah kuliah dan esai-esai akhirnya menjadi pelampiasanku. Tentang hal terakhir ini ada tiga kejadian yang membuatku semakin percaya diri bahwa tulisanku sebenarnya lumayan juga (ya, bolehlah ya membanggakan diri sekali dua).

Pertama, makalah pertama yang kubuat dalam sebuah mata kuliah di tahun pertama kuliah terpilih menjadi salah satu yang terbaik (bersama 5 orang lainnya). Dari segi isi memang biasa saja, namun aku senang karena sang bapak dosen tidak memberikan coretan apa pun terhadap logika berpikir maupun cara menulisku: SPOK, tanda baca, dsb. Duh, kalau saja kamu melihat makalah teman-temanku. Guratan-guratan dengan komentar yang cukup tajam menghiasi makalah mereka. Salut untuk bapak dosenku yag satu ini yang jeli dan tahan sekali membaca satu demi satu kata dalam 70-90an makalah yang terkumpul.

Kedua, aku pernah mendapat sebuah buku dari seorang dosen karena sebuah esai yang kubuat dalam rangka mengkritik metode kuliahnya. Iya, sebuah esai kritik. Sang dosen memang sejak awal mengatakan bahwa dia akan menyediakan sesuatu untuk mahasiswa mata kuliahnya yang dapat memberikan tulisan kritik terbaik untuk mengevaluasi kelas kuliahnya. Dan ketika pilihan itu jatuh ke goresan lugasku, aku senang sekali. Aku ingat sekali, pada saat itu aku mengambil kelas kuliah yang seharusnya belum diambil angkatanku. Teman-teman kelas kuliah tersebut adalah kakak-kakak angkatan. Yippie!

Ketiga, percobaan pertamaku untuk mengirim sebuah tulisan opini ke Kompas berhasil dimuat! Pagi hari di hari Jumat aku terbangun dan mengambil harian yang menjadi ‘sarapan’ pagi di rumahku. Aku terperanjat! Tulisanku dimuat lengkap beserta foto cantik-ku! Sambil berteriak-teriak aku menunjukkan harian tersebut ke keluargaku. La…la…la…la..la.. “Pagi yang indah!” senandungku berulang kali.

Dan setelahnya aku larut dalam skripsi (menulis juga tuh!). Dan setelahnya aku larut dalam kerja. Tahun lalu sempat aku terlibat dalam media komunikasi internal dwi bulanan di kantor, tapi terhenti semenjak aku kembali kerja di area (baca: di daerah luar Jakarta). Dan setelah bekerja di area, tepatnya tahun ini, buku harian tak tersentuh, blog sering dianggurkan, surat cinta penuh puisi melankolis romantis gombalis juga tak dilayangkan (hehehe, layangkan kemana ya?).

“Ya, menulislah!”

Iya, semangati aku terus ya untuk menulis:

untuk berbagi tentang hidup; hidup indah yang kita miliki.

Info Kerja: J&J Management Trainees

Dears,

J&J recruit di beberapa kampus: ITB, UGM, UI, UNPAD, UII, PPM, Prasetya Mulya. Harusnya dah tutupan. Tapi kalo mo coba, dalam hari2 ini mungkin masih dibuka.
Jadi, kalo tertarik, mending buruannnn!!!!

Regards,
- V -


Johnson & Johnson
is the world's most comprehensive and broadly based manufacturer of health care products, as well as a provider of related services, for the consumer, pharmaceutical and medical devices and diagnostics markets. The more than 200 Johnson & Johnson operating companies employ approximately 115,000 men and women in 57 countries and sell products throughout the world.

Our Consumer Division in Indonesia invites you to be a part of our distinguished:

Management Trainees


General Requirements
- S1 and S2 Graduates with major in Business/Management, Marketing, Finance, Engineering, Human Resource, and Information Technology
- Minimum GPA of 3.0 (B) in the scale of 4
- S-2 Graduates in Business/Management, with minimum GPA of 3.5 in the scale of 5
- For S2, 1–2 years working experience will be an advantage although not required
- Fluent in English, verbal and written
- Willing to be posted nationwide where J&J operates

Core Competencies
Entrepreneurial mindset, inner drive, good leadership, good teamwork, big picture Orientation with attention to detail, intellectual curiosity, sense of urgency, prudent risk taking, willingness for cross-functional exposures, result and performance driven.

J&J Management Trainee Program is an 18-month on-the-job program that consists of assignments in at least two different functions in the company which may include Sales, Marketing, Finance, Supply Chain, Human Resources, and Information Management. You will have the privilege of being mentored by senior J&J leaders and the opportunity to contribute in achieving business goals.

Candidates who meet the above requirements are invited to submit your application (cover letter, curriculum vitae, photos, and  academic transcript) to:

fsari@conid.jnj.com

The J&J Management Trainee selection will start in July 2007.

HUMAN RESOURCES – J&J INDONESIA

what if

Bagaimana jika aku katakan aku bahagia berada di dekatmu,

bersama kita tersenyum, terbahak, atau hanya menikmati diam.

Ini sudah lewat dari seribu masa.

Harusnya sudah melayang segala letup rasa.

Panas, dingin, cerah, berawan, gerimis, deras, pelangi maupun badai sudah kita jalani penuh.

Harusnya sudah muncul rasa jenuh.

Bagaimana jika aku katakan aku nyaman berada di dekatmu,

bersama kita tersenyum, terbahak, atau hanya menikmati diam.

Aku bisa mencinta;

dengan tetap menjadi diriku;

apa adanya aku;

tanpa berpura;

tanpa terpaksa.

Bagaimana jika aku katakan aku bahagia dan nyaman berada di dekatmu,

bersama kita tersenyum, terbahak, atau hanya menikmati diam;

maukah kamu tidak berjengkal dariku?